Ada saat-saat di mana diri ini merasa sangat dekat dengan Allah. Rasanya hidup terasa damai, tenang, dan mengalir kelegaan yang begitu halus. Hal ini selaras dengan ungkapan bahwa iman itu yazid wa yanqush (naik dan turun), artinya keimanan manusia bergerak seperti roda, kadang di atas, kadang juga di bawah. Karena itulah, tak heran bahwa diri kita di masa ini kadang sangat merindukan versi diri yang lebih dekat dengan Allah.
Membaca Ulang Kerinduan Spiritual

Rekam jejak manusia kerap melekat kuat dalam ingatan, menyimpan kerinduan mendalam yang tak dapat dielakkan. Sebab memori manusia adalah memori paling unggul yang pernah ada, kapasitasnya tidak terbatas dan mampu menampung memori dan ingatan seumur hidup. Tumpukan memori itu bagi sebagian orang menarik untuk dikenang. Saat melihat diri jauh ke belakang, ada serpihan jejak yang melukiskan pembelajaran, sehingga menjadikan diri di masa sekarang kembali utuh untuk terus berjuang menjadi versi yang lebih baik. Di titik inilah kita mulai melihat kerinduan bukan hanya sekadar nostalgia kosong, tapi juga memiliki makna spiritula yang lebih aman.
Rindu adalah pertanda iman yang bergerak
Rasa rindu adalah bagian dari anugerah Allah. Oleh karena itu, tidak elok rasanya jika anugerah itu tidak direnungi maksudnya. Rindu dalam konteks ini bukanlah keluhan, melainkan rindu pada diri sendiri versi masa lalu yang lebih dekat dengan Allah. Pertanda baik bahwa iman sedang bergerak, hati sedang hidup, dan Allah masih memberi kita rasa untuk kembali. Itu tandanya hati belum mati, karena masih terus mengenali rumahnya.
Perbedaan antara rindu dan penyesalan
Rindu membuat kita ingin pulang, sementara penyesalan membuat kita ingin bersembunyi. Keduanya bisa muncul bersamaan, tapi rindu hadir membawa harapan, sedangkan penyesalan sering kali membawa beban. Allah senantiasa membuka pintu bagi siapapun yang rindu, bukan yang terkurung oleh rasa bersalah. Maka belajar membedakan kedanya adalah bentuk cinta pada diri sendiri.
Mengizinkan Diri untuk Bertumbuh
Fisik manusia terus bertumbuh seiring berjalannya waktu, begitupun dengan kehidupan ruhaninya, yang terus tumbuh di setiap harinya. Terperangkap dalam rasa bersalah bukanlah pilihan yang tepat untuk terus menelusuri jalan hidup yang hanya sementara. Terus bergerak dengan penuh rasa optimis akan membuat langkah lebih ringan dan bernapas lebih lega. Oleh karenanya, 2 hal di bawah menjadi penting untuk dilakukan:
1. Berdamai dengan diri kita versi masa lalu
Diri kita di masa lalu bukanlah musuh, melainkan guru yang mengajarkan banyak hal. Ia adalah versi yang berjuang seadanya dengan pengetahuan yang dimilikinya saat itu. Ketika kita berdamai dengan diri yang dulu, kita sedang mengakui bahwa setiap fase perjalanan membawa kita lebih dekat pada kedewasaan iman hari ini. Menerima diri yang dulu berarti mengizinkan diri untuk tidak sempurna, karena Allah tidak menuntut kita tanpa cela, tetapi menginginkan kita terus kembali di jalan-Nya.
2. Menghargai proses yang Allah buka untuk kita
Tidak ada langkah menuju Allah yang sia-sia. Setiap kegelisahan, rindu, bahkan rasa jauh sekalipun adalah bagian dari proses yang Allah buka agar kita menemukan-Nya dengan lebih tulus. Menghargai proses berarti menatap perjalanan hidup dengan rasa syukur, bahwa Allah masih memberi kita kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, dan kembali kepada-Nya kapan pun hati mengetuk. Ketika kita menghargai proses ini, kita tidak lagi terburu-buru. Kita berjalan dengan tenang, percaya bahwa Allah menuntun setiap langkah, sekecil apa pun itu.
Hidup bagaikan lembaran kertas, maka tulislah yang baik-baik dan berhati-hatilah agar kesalahan tidak sering terjadi.





Leave a Comment